M Ridwan Kamil – Tentang Bisnis Properti dan Pembangunan Kota


“Developer Harus Jadi Trend Setter

Ridwan Kamil (36) adalah arsitek yang layak diajak bicara mengenai bisnis properti dan pembangunan kota . Ia banyak menangani proyek properti, tapi masih bisa mengambil jarak dari situasi. Kritiknya konstruktif, tidak asal menuding. Melalui karya-karyanya ia juga mencoba memberi solusi.

Salah satu kritiknya, pembangunan properti terlalu berorientasi pada keindahan fisik dan mengabaikan manusia. Akibatnya kita kehilangan peluang menyediakan ruang publik yang selama ini sudah minim di kota-kota Indonesia . Founder dan prinsipal PT Urbane Indonesia ini menyebutnya sebagai mis-opportunity dalam pembangunan kota .

“Properti yang dibangun begitu banyak dengan nilai puluhan triliun, tapi terlalu sedikit sumbangannya terhadap kualitas kota,” kata arsitek yang suka mengikuti berbagai sayembara desain arsitektur itu. Baginya, properti tidak bisa dibangun untuk ekonomi semata. “Ruang publik tempat warga beraktivitas, berinteraksi, berekspresi, dan belajar demokrasi, perlu diakomodasi untuk meningkatkan kualitas kota,” lanjutnya.

Menurut perancang Rasuna Epicentrum (Kuningan-Jakarta Selatan), Grand Wisata dan Deltamas (Bekasi), kampus baru Universitas Tarumanegara (Grogol-Jakarta Barat), Singapore Marina Bay (Singapura), dan Ras Al Kaimah Resort (UEA) itu, mestinya opportunity lost itu bisa dicegah bila ada komunikasi yang baik antara perancang dan developer.

“Developer perlu diyakinkan, properti yang menghargai manusia itu bukan properti yang merugi. Kasi perbandingan dengan negara lain. Mungkin selama ini mereka tidak mendapat informasi yang cukup. Bila semua proyek raksasa punya perhatian pada manusia, kota-kota kita akan punya banyak ruang positif,” ujar alumni jurusan arsitektur ITB yang sudah merancang 130 proyek urban design dan arsitektur di 16 negara termasuk Indonesia itu.

Berikut perbincangan Yoenazh K Azhar , Joko Yuwono , Halimatussadiyah , dan fotografer Desmaizal Zainal dari Majalah Estate dengan Master of Urban Design, College of Environmental Design, University of California-Berkeley, USA, itu di sebuah lokasi hang out di Jakarta Selatan awal Juni.

Apa itu ruang positif?

Ruang yang memang sengaja dirancang. Lawannya ruang negatif. Kita merancang, tetangga merancang, tiba-tiba ada lahan kejepit tempat jin buang anak. Itu ruang negatif. Desainnya jalan sendiri-sendiri. Kalau ruang positif dari awal kita tahu ada beberapa bangunan. Karena itu desainnya dintegrasikan. Antar bangunan ngobrolnya gimana . Kita diskusikan konteksnya untuk manusia. Semua orang bersosialisasi di situ. Misalnya, harus ada jembatan, jalan penghubung, pedesterian. Bukan dibikin benteng tapi dibuat plaza, ruang terbuka. Jadi, tiap bangunan merespon yang lain, sehingga semua ruang di antara bangunan menjadi ruang positif. Ini yang jarang di properti-properti kita.

Kenapa kita mesti concern terhadap ruang itu?

Kota harus dikembalikan untuk manusia. Jadi, apapun yang kita rancang yang didahulukan kepentingan manusia. Bukan mobil atau bangunan. Setiap desain saya berusaha begitu. Karena itu saya berharap Rasuna Epicentrum bisa menjadi percontohan. Di situ desainnya pedesterian friendly . Lebar 10 meter, panjang setengah kilo. Mobil tidak boleh parkir di depan, langsung ke basemen. Konsepnya dipadatkan. Jadi, nanti banyak danau, ruang terbuka, ada waterfront , ada trem. Yang namanya jalan didesain. Selama ini jalan adalah ruang publik yang paling diabaikan. Jalan.hanya dirancang untuk mobil. Padahal kalau dibikin ramah, pedesterian lebar, banyak pohon, ada ritel-ritel, kualitas kota meningkat. Sederhana tapi selalu kelewat. Proyek di Singapura juga begitu. Ada ruang publik, ada waterpfront , ada bus park . Kalau stress saya ke air, pengen nongkrong, ke kafe. Itu life style yang membuat hidup lebih baik. Arsitektur itu kan membuat lingkungan lebih baik sesuai konteks kota. Tapi, kalau cuma gaya klasik Eropa, hidup tidak berubah menjadi lebih baik, kan?

Kan sudah banyak yang menawarkan tema serupa?

Beda. Di sini konsepnya alam yang diaktifkan. Biasanya developer jualannya begini. Datanglah ke proyek saya karena sangat alami dengan suasana pedesaan. Itu sudah terlalu banyak. Yang saya tawarkan alam yang bisa menjadi sumber aktivitas, bukan alam yang hanya dilihat terus merasa tenteram. Jadi, air bukan hanya untuk dilihat tapi bisa jadi perahu, bisa jadi panggung, belanja di atas air, dan lain-lain. Dengan begitu tercipta macam-macam aktivitas. Konsep itu saya terapkan juga di Grand Wisata. Itu yang membuatnya unik.

Bagaimana dengan prestise propertinya?

Konsep ini memang terbuka. Tak ada satpam, orang bisa lalu lalang dengan nyaman. Tapi, soal prestise kita negara berkembang sering kekurangan contoh yang baik. Kalau miskin seolah-olah tidak bisa beradab. Ruang positif itu bisa menjadi sekolah. Orang akan belajar. Saya harus bersikap gimana nih kalau di sini. O, harus antri. O, nggak boleh jongkok. O, nggak boleh buang puntung rokok sembarangan. Jadi, demokratis.

Bagaimana meyakinkan developer soal ruang positif itu?

Memang sulit. Developer otaknya kan duit aja . Makanya kalau dikasi kerjaan, saya slide show dulu. Saya yakinkan g ood design is good business . Bukan good business bad design . Saya kasih juga perbandingan. Ini di Singapura ada proyek kayak punya Bapak. Desainnya bagus, manusianya juga betah. Pelan-pelan nambah wawasannya. Begitu nyambung , baru kasih desain. Biasanya jauh lebih bisa menerima. Sering developer tidak diberi pilihan yang cerdas. Perancang ikut arus saja. Atau belum apa-apa sudah bilang, Pak, jangan ada parkir di depan gedung. Developernya bilang, oh nggak bisa. Nanti parkir bos dimana. Ya, udah ngalah . Akhirnya ada parkir lagi.

Bukannya ruang terbuka itu mubazir secara bisnis?

Orang memang sering menganggap kalau pedesterian dibagusin, itu buang-buang duit. Padahal, properti itu jangan berpikir jangka pendek. Di Bintang Walk Kuala Lumpur ada Starbucks kaki lima . Juga Deli Frank. Jadi, ruang terbuka itu mubazir karena orang tidak melihat perbandingan. Di tempat lain bisa jadi sumber uang. Masalahnya tinggal diatur. Dari awal dirancang ada kaki lima , kios-kiosnya didesain, jenis dagangannya ditata. Hanya di kita desainnya disesuaikan. Misalnya, banyak pohon peneduh, lantainya adem.

Masih berkaitan dengan ruang positif, arsitek yang lima tahun bekerja di perusahaan konsultan desain arsitektur SOM (Amerika Serikat) dan EDAW (Hongkong) itu, juga mengritik pembangunan permukiman yang menyebar di banyak lokasi tapi densitasnya rendah. “Kita terlalu terpengaruh Amerika. Yang kita banyakin bukan town house atau apartemen kayak kota-kota Eropa yang padat tapi nyaman. Hidup kita jadi boros, kualitas hidup menurun. Kita mau janjian saja susah,” kata mantan Ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia (Permias) University of California Berkeley itu.

Baginya untuk kota-kota besar konsep multiuse yang menggabungkan beberapa fungsi dalam satu bangunan adalah pilihan realistis. Pasalnya, tak ada ruang yang mubazir, banyak ruang terbuka, vegetasi lebih banyak, lebih hijau, udara lebih bersih. Kota juga jadi efisien dan hidup. Semua kegiatan berdekatan. Kantor dekat sini, rumah di sana, tempat nongkrong juga tidak jauh.

Bisa juga lantai dasar untuk ritel. Di atas rumah atau toko lagi. Densitasnya jadi optimum. Tak ada kawasan yang bolong-bolong seperti gigi ompong. Orang tak perlu naik mobil ke kantor, shopping , atau nongkrong. Jalan malam juga enak karena selalu melewati toko.

Contoh kecil Starbucks di Jl Thamrin, Jakarta, yang membuat Thamrin jadi hidup. “Coba kalau nggak ada Starbucks, begitu kantor tutup, udah , gedungnya mati. Bayangkan kalau seratus gedung kayak gitu , siapa yang berani jalan malam? Bila semua dibikin ada Starbucks, siang malam Thamrin jadi menyenangkan. Yang kayak gini yang bikin hidup jadi bagus,” kata associate member American Institute of Architect (AIA) itu.

Konsep itu didukung sistem tranportasi yang baik. “Di Hongkong menyenangkan naik subway . Kaya miskin bertemu di satu kereta. Yang cantik-cantik sebelahan sama kaki lima itu biasa. Lebih demokratis. Kita kapan yang berdasi bareng sama kaki lima? Kita menikmati kota lewat mobil. Jadi, kota cuma visual, bukan disentuh dan dirasakan,” tuturnya.

Kendalanya memang budaya. Orang kita maunya rumah harus ada teras dan halaman. “Padahal, untuk kota sebesar Jakarta pikiran itu terlalu tradisional. Orang Singapura dan Hongkong saja yang lebih kaya mau tinggal di apartemen. Tapi, begitu turun bisa naik subway , ketemu taman, plaza,” ujarnya.

Kenapa konsep kita terlalu Amerika bukan Eropa?

Karena globaliasasi. Globalisasi itu siapa yang pegang informasi dia yang punya hegemoni. Jadinya di kepala orang hanya ada kota-kota di Amerika. Developer juga tidak diberi masukan. Mereka jadi takut mencoba. Arsiteknya ikut saja. Karena itu di Indonesia developer kebanyakan follower bukan trend setter . Kalau trend setter dia inovatif. Ada risiko, memang, tapi terkalkulasi. Citos dan Plaza EX itu trend setter , Rasuna Epicentrum konsepnya juga trend setter . Citos itu dari teori lokasi tidak masuk. Dia akan kalah bersaing. Karena itu dijadikan food and beverage mall . Hidup. Coba kalau dibikin kayak Plaza Senayan? Plaza EX juga begitu, spesialisasi. Yang dihadirkan hanya fungsi-fungsi buat anak muda. Bapak dan ibu belanja di Plaza Indonesia, anaknya nongkrong di EX.

Bagaimana dengan proyek Anda?

Beberapa sedang dibangun, kayak kampus baru Untar. Konsepnya memanusiawikan kampus. Dulu kampus itu ruangnya habis untuk parkir. Di sini parkir saya pool di gedung parkir. Lantai dasar 100 persen untuk manusia. Kembali lantai dasar itu istimewa buat saya. Di situ orang bisa belajar di taman, pacaran, baca buku, diskusi. Sekarang tempat diskusi nggak ada yang nyaman. Mahasiswa selonjoran di koridor. Terus ada konsep green architecture . Ruang-ruang istirahat vertikal. Teras raksasa dengan pohon-pohon. Jadi, orang kalau mau istirahat nggak perlu ke lantai dasar. Dia bisa istirahat di atas. Baca buku di perpustakaan bisa di dalam atau di ruang hijau.

Ridwan mendapat sebagian proyek di berbagai negara dan Indonesia dari bekas kantornya di AS dan Hongkong. “Grand Wisata itu dari EDAW. Setelah konsepnya selesai, detailnya dari saya. Jadi, fifty-fifty lah,” kata arsitek yang setelah lulus langsung menjadi dosen di ITB (1995 – sekarang) itu . Selain itu juga dari sayembara. Dari 20-an yang diikutinya, belasan di antaranya dimenangkannya.

Ia rajin mengikuti sayembara karena di situ ia bisa menumpahkan ide-ide kreatif. “Kalau di proyek biasa lebih susah. Belum apa-apa klien sudah takut. Otak yang udah kreatif akhirnya ngalah,” katanya. Hanya, baru sedikit dari proyek sayembara itu yang dibangun. Selain kampus Untar, sebutlah sekolah Al Azhar di Kota Baru Parahyangan (Bandung). “Itu dari lomba Mowilex,” tukas penulis masalah urban design dan arsitektur di berbagai surat kabar ini.

SUBER :http://www.housing-estate.com/index.php?option=com_content&task=view&id=984&Itemid=65

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s