HARGA TANAH YANG NAIK TERUS


KOMPAS & BISNIS: Tanah JABOTABEK Naik Terus; Karawaci Rp15jt/meter


Beritanya dari Bisnis Indonesia dan Kompas 

http://web.bisnis.com/sektor-riil/properti/1id114137.html

JAKARTA (Bisnis.com): Harga tanah tertinggi pada proyek perumahan di Tangerang pada semester II/2008 mencapai Rp15 juta per meter persegi, yang berada di kompleks Lippo Karawaci.

Data PT Cushman & Wakefield Indonesia 2009 menyebutkan harga tanah di Tangerang bervariasi tergantung lokasi. Harga terendah mulai dari Rp600.000 per meter persegi hingga Rp1,5 juta per meter persegi yang berada di kompleks perumahan Citra Grand.

Arif Rahardjo, Kepala Departemen Riset Cushman & Wakefield Indonesia, mengatakan harga tanah sangat ditentukan oleh lokasi, akses, serta kelengkapan fasilitas yang sudah ada dalam kawasan perumahan. “Harga tanah di Tangerang sudah tergolong tinggi sehingga banyak pengembang membangun perumahan elite untuk segmen menengah ke atas,” katanya hari ini.

Harga tanah yang tergolong murah masih berada di Depok dan Bogor dengan harga terendah Rp400.000 per meter persegi. Di kawasan ini masih bisa diperoleh rumah untuk kalangan menengah ke bawah.

Biaya konstruksi perumahan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi pada periode tersebut naik rata-rata 17%, sedangkan harga rumah hanya naik 10%.(yn)

http://properti.kompas.com/read/xml/2009/04/20/07034893/geliat.properti.di.jabodetabek

Senin, 20 April 2009 | 07:03 WIB
KOMPAS.com – Industri properti di Jakarta dan Bodetabek masih bergairah. Pemilik uang masih melihat peluang investasi di bidang properti menguntungkan. Lihatlah pusat-pusat perbelanjaan yang dilengkapi dengan pusat gaya hidup, apartemen, dan gedung perkantoran terus dibangun di berbagai wilayah.

Selain itu, kelas menengah di Jabodetabek terus tumbuh. Mereka butuh tempat tinggal dan aktivitas bisnis maupun hiburan.

Menurut kalangan pelaku bisnis properti, sebanyak 22,5 juta penduduk Indonesia menerima pendapatan per kapita 6.000 dollar AS dan 22,5 juta lainnya menerima 3.000 dollar AS. Berarti ada 50 juta penduduk Indonesia yang menerima pendapatan 3.000 dollar AS ke atas. Jumlah kelas menengah ini diperkirakan akan terus bertambah dan sebagian naik kelas.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo sudah mencanangkan kawasan Jalan Dr Satrio sebagai kawasan wisata belanja yang memiliki trotoar lebar yang memanjakan pejalan kaki, seperti Orchard Road di Singapura, Bintang Walk di Kuala Lumpur, atau Champ Elysees di Paris.

Selama ini banyak orang Indonesia yang melancong ke luar negeri. Mereka berkunjung ke Negeri Singa hanya untuk membeli ”suasana” seperti di Orchard Road.

Fauzi Bowo yang juga mantan Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta ini paham betul kondisi itu.

Oleh sebab itu, ia mendukung pengembang yang membangun megaproyek Kuningan City dan Ciputra World di Jalan Dr Satrio dan menciptakannya menjadi shopping belt dan kawasan gaya hidup modern dengan trotoar selebar 20 meter.

Sebenarnya, pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta sudah lebih bagus dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Lihatlah Grand Indonesia Shopping Town seluas 250.000 meter persegi dan Plaza Indonesia (62.747 m) di kawasan Bundaran HI di jantung Jakarta, Pacific Place (73.016 m) di kawasan bisnis Sudirman, Senayan City dan Plaza Senayan di kawasan Senayan, serta Mal Pondok Indah di kawasan Pondok Indah.

Semua barang bermerek dengan brand internasional dijual di mal-mal ini.

Tahun 2008-2009, sebanyak 10 pusat perbelanjaan baru dibuka di Jabodetabek. Menurut catatan Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI), pusat perbelanjaan itu adalah FX Lifestyle Mall (30.000 m) di kawasan Sudirman dan Plaza Indonesia Extension (45.325 m) di kawasan Thamrin (Jakarta Pusat), Pejaten Village (58.000 m) di kawasan Warung Buncit dan Blok M Square (185.000 m) di kawasan Blok M (Jakarta Selatan).

Empat pusat belanja di Jakarta Utara bersaing ketat, yaitu Pluit Junction (50.000 m), Pluit Village (86.588 m), Emporium Pluit Mall (170.000 m) di kawasan Pluit, dan Mall of Indonesia, Kelapa Gading Square di kawasan Kelapa Gading.

Di luar Jakarta, ada Bekasi Square (65.000 m) di Bekasi dan Teraskota di BSD, Tangerang.

Tahun 2010 bakal beroperasi Central Park Mall Podomoro City di Jakarta Barat, Kemang Village, Kuningan City dan Kota Kasablanka, serta Gandaria City di Jakarta Selatan.

Terus naik

Timbul pertanyaan besar, mengapa kian banyak pemodal dan pemilik uang membangun dan membeli properti di Jakarta dan Bodetabek?

Pengamat properti Panangian Simanungkalit berpendapat, dibandingkan dengan properti di Singapura, Malaysia, Thailand, Australia, Jepang, Hongkong, dan Amerika Serikat, nilai properti di Indonesia, khususnya di Jakarta dan Bodetabek, terus meningkat.

”Saat krisis global seperti sekarang, nilai properti di banyak negara jatuh, tetapi di Jakarta, nilai properti malah naik. Properti di Indonesia tidak bergantung pada orang asing seperti di Thailand. Para pemain properti sebagian besar orang Indonesia,” ungkap Panangian.

Dia memprediksikan properti di Jabodetabek akan mengalami booming pada tahun 2011. ”Saya optimistis karena ini faktor siklus yang berjalan alamiah. Apalagi suku bunga akan turun lagi. Jadi pemilik uang tidak ragu-ragu membelanjakan properti karena pasti mendatangkan keuntungan berlipat ganda,” ujarnya.

Seandainya orang Indonesia yang memiliki properti di banyak negara menjualnya kembali, lalu membeli properti baru di Jakarta, properti Indonesia diprediksi akan semakin bergairah.

Saat ini, menurut catatan Panangian, ada 140.000 unit properti milik orang Indonesia di luar negeri dengan nilai seluruhnya Rp 700 triliun atau rata-rata Rp 5 miliar per unit.

Kalau 10 persen dari pemilik properti di luar negeri itu membeli juga di Jakarta dan Bodetabek, industri properti kita betul-betul berkibar dan booming.

Properti di Jakarta di lokasi emas antara lain Kuningan, Gatot Subroto, MH Thamrin, Pondok Indah, Dharmawangsa, Kemang, Permata Hijau, Simprug, Blok M, Fatmawati, Tanjungduren, Kembangan, Kebon Jeruk, Kelapa Gading, Pantai Indah Kapuk, Pluit, dan Ancol.

Properti di kawasan-kawasan ini terus tumbuh dan berkembang. Dalam waktu singkat, nilai tanah dan bangunan menjadi berlipat ganda.

Panangian melihat Serpong juga menjadi kawasan emas di luar Jakarta yang memikat banyak pengembang besar, yang membangun kawasan Gading Serpong, BSD City, dan Alam Sutera.

Serpong menjadi daerah pertemuan antara Jakarta Barat dan Jakarta Selatan sehingga akan berkembang menjadi kawasan emas baru. (ROBERT ADHI KSP)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s