HAK-HAK ATAS TANAH


Pengertian tanah hak barat (eigendom), tanah girik, tanah adat (verponding), dan
UUPA. mengalami konversi sejak berlakunya uupa tahun 1960. soal prioritas
kegunaan tanah jadi pangkal keruwetan.

BERBAGAI kasus tanah semakin meresahkan masyarakat. Mulai dari kasus manipulasi
adminitratif, kejahatan fisik seperti penipuan atau penyerobotan, sampai
mencuatnya istilah “mafia” tanah. Di antara faktor penyebabnya, mungkin, adalah
ketidaktahuan masyarakat tentang hak dan status kepemilikan tanah. Padahal,
Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960 sudah mengatur aneka ragam hak-hak
tanah.

Hak milik atas tanah, yang hanya boleh dimiliki oleh seorang warga negara
Indonesia (WNI), misalnya. “Selain hak yang terkuat dan terpenuh, hak ini
bersifat turun-temurun,” kata Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN). Soni
Harsono.

Hak milik, berasal dari tanah adat dan konversi atas tanah-tanah yang dulunya
beralasan hak barat (eigendom). Yang dimaksud tanah hak barat ialah tanah bekas
milik orang asing, dalam hal ini Belanda dan timur asing seperti Cina dan Arab.
Bentuknya macam-macam: perkebunan, tanah dengan bangunnnya, atau tanah kosong
saja.

Hak-hak lainnya, yang statusnya sama dengan hak milik, adalah tanah girik dan
tanah verponding (tanah adat yang diakui sebagai hak milik tapi terdapat di
kota-kota). Tapi kekuatan hukum dari tanah girik, sebetulnya tak cukup kuat.
Sebab, “Hanya sekadar bukti bahwa si pemilik telah, membayar pajak,”. Sebab itu,
disarankan agar tanah-tanah yang dilekati hak semacam itu sebaiknya segera
disertifikatkan.

Selain acara perolehan di atas, hak milik bisa juga berasal dari redistribusi
tanah tanah-tanah obyek land feform. Lewat kebijaksaan land reform, pemerintah
memberikan hak milik tanah bagi para petani penggarap. Tanah-tanah yang
didistribusikan itu berasal dari kelebihan tanah orang-orang yang tak memenuhi
ketentuan luas maksimum pemilikan tanah.

Ketentuan luas maksimum, seperti diatur dalam Keputusan Menteri Agraria Tahun
1960.,untuk daerah sangat padat (kepadatan 401 orang per km2), satu keluarga
hanya boleh memiliki 5 hektar sawah dan 6 hektar tanah kering. Sedangkan untuk
daerah tidak padat (50 orang/km2) maksimum 15 hektar sawah dan 20 hektar tanah
kering.

Di samping dari kelebihan luas maksimum, obyek land reform juga berasal dari
tanah-tanah absentee (guntai). Ini jenis tanah milik seseorang yang ternyata
terletak di luar kecamatan tempat orang itu tinggal. Masalah tanah guntai ini
pernah menghangat lantaran tanah-tanah yang biasanya berada di desa-desa itu
diketahui ternyata milik “orang kota” .

Tanah-tanah yang dulunya berasal dari hak barat, selain eigendom dan verponding,
adalah erfpacht, dan opstal. Seperti juga tanah eigendom, setelah berlakunya
UUPA tahun 1960 mengalami konversi. Semua jenis hak barat itu dinyatakan
berakhir 20 tahun kemudian, tepatnya pada 24 September 1980.

Itu berarti, segala macam tanah tersebut otomatis menjadi tanah negara. Hanya
saja, mesti diingat, “Negara bukan memiliki tanah-tanah itu, tapi menguasainya
untuk kemudian mengatur penggunaan dan pemilikannya,.

Setelah konversi, hak tanah erfpacht perkebunan atau pertanian, kata Nyonya
Henny, menjadi hak guna usaha (HGU). Sementara itu, hak tanah opstal bangunan
menjadi hak guna bangunan (HGB). Melalui Keppres 32 tahun 1970, kepemilikan dan
penguasaan tanah-tanah itu ditata kembali.

Baik pemegang hak lama, penggarap tanah, maupun penghuni bangunannya bisa
mengajukan permohonan baru atas, kepemilikan tanah-tanah itu. Tapi tetap, hanya
mereka yang WNI yang diperkenankan memohon perolehan hak baru itu. Yang bakal
memperoleh itu harus memenuhi persyaratan, antara lain, benar-benar menguasai
dan menggunakan tanah tersebut — dan tanah itu tak terkena proyek kepentingan
umum.

Ketika itu, untuk tanah-tanah perkebunan ataupun peternakan yang telah menjadi
tanah pertanian atau permukiman rakyat, konon akan diprioritaskan untuk
diberikan kepada rakyat yang mendudukinya. Begitu pula jika ternyata telah
menjadi perkampungan rakyat tanah-tanah bekas konversi itu akan diberikan kepada
penggarap atau penghuni.

Soal prioritas ini bisa jadi yang menimbulkan keruwetan dan aneka rupa sengketa
tanah. Kecuali itu, dari hak milik juga diperbolehkan beranak-pinak menjadi
berbagai HGU dan HGB.

Berbeda dengan hak milik, HGB bisa berlaku sampai 30 tahun dan dapat
diperpanjang lagi 20 tahun. HGU punya pembatasan luas dan jangka waktu
kepemilikan. Untuk tanaman tahunan, seperti karet dan cengkeh. HGU hanya untuk
tanah di atas 5 hektar, berlaku selama 35 tahun, dan bisa diperpanjang untuk 25
tahun.

Masih ada lagi hak tanah yang berasal dan konveri hak barat, yakni hak pakai.
Denan hak ini, seseorang diperbolehkan untuk menggunakan atau memungut hasil
dari tanah yang dikuasai negara. Bisa juga dari tanah eigendom milik pemerintah
asing yang dipakai untuk perwakilan negara itu di sini.

Hak-hak tanah seperti disebut di atas bisa diperoleh lewat jual-beli.
Sebaliknya, tanah-tanah yang dilekati hak membuka hutan, hak memungut hasil
hutan, hak sewa dan hak sementara lainnya — termasuk hak gadai — tak boleh
diperjualbelikan.

Menurut ketentuan agraria, setiap pemilik tanah bisa memperoleh hak-hak atas
tanah tersebut, dengan mengajukan permohonan ke BPN. Untuk itu, ia harus
memenuhi berbagai syarat permohonan. Di kota-kota besar, misalnya, pemohon harus
melampirkan advies plan dari Dinas Tata Kota, memberikan batas-batas tanah,
membayar uang kas negara.

Selanjutnya, si pemilik tadi memperoleh sertifikat tanah. Tapi ada pula
pembatasan. Untuk daerah Jakarta, contohnya, seseorang hanya boleh memiliki
sertifikat maksimum lima buah dengan luas tanah 5.000 m2.

Begitupun, yang jelas, “Sertifikat tanah merupakan bukti terkuat,”, kecuali jika
ada orang lain yang bisa membuktikan dirinya lebih berhak atas tanah itu. Selain
itu, “UUPA tegas menyatakan hak atas tanah mempunyai fungsi sosial. Artinya, si
pemegang hak wajib memanfaatkan tanah itu,” .

Semoga bisa sedikit memberi gambaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s